Rabu, 05 Desember 2012

Janda dan Tuhannya

Janda dgn Tuhan, hubungannya sangat erat. Saya tidak akan membahas Tuhan, bukunya tante Karen Amstrong belum usai saya baca, saya juga belum pernah kencan dgn om Smith sang ahli agama-agama langit. Jadi kapasitas saya sangat diragukan membahas Tuhan, jauh dan tidak sebanding dgn dua orientalis di atas.

Janda. Ia perempuan jujur, menjanda di usia yg relatif muda, 25 tahun ke bawah. Riwayat pendidikannya menyedihkan, dikenal kaku dlm bersikap, mudah tersinggung jika dianggap rendah berlebihan. Demikian di antara sifatnya yg saya kenal.

Ayam adalah jalan si janda utk menjemput rizki Tuhan. Mulanya ia menempuh kurang lebih 14 KM pulang pergi untuk belanja ayam di salah satu pengusaha tetangga desanya. Perjalanan ia mulai dr pukul 03.00 dini hari.

Acapkali ia hanya berdua dgn sopir, di deretan jok mobil paling depan. Menurut pengakuannya ia menghadapi lima sopir yg menawarkan diri merabanya, satu di antaranya bahkan sudah melakukannya. Ia hanya berucap, "Kak, aku betul-betul mencari karunia Allah dgn cara yg baik, semampuku. Tolong bantu aku utk tidak melanggar ketentuan Allah." Kalimat sopan utk sopir yg konon jatuh hati dr dulu dan baru ada kesempatan utk berbuat yg diinginkan.

Dua tahun ia jalani ujian perjalanan macam itu, berganti-ganti sopir utk mencari resiko sekecil mungkin. Ia menginginkan keadaan yg lebih baik, tidak perlu mengadakan perjalanan sedini mungkin bersama laki-laki asing yg menggemukan nafsu tidak halalnya. Allah menjawab keinginannya. Ia ditakdirkan berpartner dgn sebut saja, mas Dono. Laki-laki yg memendam cintanya pd si janda sedari dulu, sewaktu mereka berdua masih unyu-unyu.

Dr sini kisah cinta dimulai. Mas Dono adalah supplier ayam hidup pd banyak pedagang, ia beristri. Madu adalah harga mati bagi istrinya, mendua sama dengan bunuh diri, no poligami!

Sang janda meski keadaannya lebih baik, masih pontang-panting mencari penyembelih ayam. Ia minta tolong ipar lelakinya, menolak. Ia mendatangi Modin (istilah laki-laki tua yg mengurusi hal-hal yg terkait dgn keagamaan). Rupanya usia senja tak selalu melancarkan acara sembeli-menyembelih. Pernah juga ia meminta tolong mas Dono namun khawatir istrinya menaruh curiga.

Mau tak mau ia harus belajar menyembelih ayam dgn tangannya sendiri. Akhirnya ia dapat melakukannya.

Ujian si janda membesar sesuai tingkat kepandaiannya dlm menangani dunia per-ayaman. Ia main hati dgn mas Dono. Mereka berdua kerap membunuh waktu bersama, mas Dono sempat membelikan perhiasan utk si janda. Barangkali dgn begitu mas Dono mudah raba-meraba, dan si janda rela, atas nama cinta. Menurutnya ia tak pernah jatuh cinta sedemikiannya, bahkan dgn mantan suaminya.

Tapi tidak dgn yg 'satu' itu. Mas Dono kerap merayunya utk bercinta, "Mas, aku memang setengah mati mencintaimu tapi tidak dgn cara terlarang aku membuktikan rasaku. Itu dilarang Allah." Well, entah ia bicara dgn nada dan mimik macam apa. Allah keren ya, bisa meniupkan burhan di hati si janda. Seperti Allah menghembuskan kilatan cahaya di akal Nabi Yusuf.

Rupanya perselingkuhan mewujud jika kedua belah pihak suka sama suka, kalau salah satu menidakkan tak kan terjadi. Iya si janda itu bukti konkretnya.

O iya, si janda sekarang memiliki rumah megah di deretan blok kavling lingkungannya, lebih megah dr perempuan bersuami sekalipun. Betul-betul atas usaha ayam yg diridhai Allahnya. Suasana batin seseorang mempengaruhi cara ia memandang Allah kan, Allah si janda belum tentu sama dgn Allah saya.

Si janda yakin betul dgn invisible hand-Nya. Dialog dgn putra pertamanya cukup mewakili keyakinan lugunya.

"Ibu bisa menegakkan rumah megah seperti sekarang, masa beli motor utkku masih mikir?" Protes sang anak yg bermata belo' sambil melotot.

"Nak, rumah ini tidak pernah terbayang oleh ibu sebelumnya akan seperti sekarang. Allah, nak, Allah Yg Mahakuasa memudahkan rizki ibu." Kali ini si janda menanggalkan kekakuannya dlm menghadapi putranya. Mereka sama-sama keras kepala, harus ada yg mengalah salah satunya dan itu tidak mungkin putranya yg berdarah muda.

"Kalau gitu, dana haji ibu ditunda saja, utk beliin aku motor." Si putra mata lebar tak kehilangan cara merayu ibunya dan memanjakan ego kakunya.

"Nak, uang muka utk ibu haji itu sudah menjadi milik Allah. Kalau usia ibu tidak sampai mengalami panggilan Allah, tolong usahakan kamu yg meneruskan ibadahnya." Si janda tahu betul dgn kekuasaan Allahnya.

Iya ada hal-hal yg di luar matematika manusia, pasrah adalah cara paling aman utk mensiasati hidup yg sarat dgn pergantian ujian. Siapa saja yg segera mengembalikan apapun pd Yg Maha Menguji, insya Allah ia selamat dr larangan-larangan Tuhan.

Pada awalnya akan ada tangisan, kekesalan, kekhawatiran dan bermacam emosi yg melemahkan. Namun jika seseorang menganggap itu sebagai lintasan-lintasan pikiran, maka insya Allah pikiran-pikiran baik yg menjadi pemenang. Bukankah segala peristiwa baik dan buruk terjadi atas ijin-Nya? Tak perlu dijawab.

"Goda saja manusia dr arah manapun tapi jangan ya bagi hamba-Ku yg menempatkan ridha-Ku di atas segalanya." Nasehat si janda pd saya, saat saya menyampaikan betapa yg lalu-lalu laki-laki hobi melintas di hati saya. Insya Allah dlm waktu dekat harus saya hentikan, dgn merayu Tuhan (beginilah, Tuhan saya jadikan senjata terakhir utk hal-hal yg di luar kapasitas saya). Tapi ke depannya eh mulai saat ini semoga Tuhan saya jadikan konsultan, baik saat ujian duka maupun suka, insya Allah. amin.

Al-Fatihah utk kita semua, amin... Sudah dulu ya, saya mau makan siang sambil membalas sms sepupu yg mau main ke rumah :)

Selasa, 04 Desember 2012

Pakaian dan Tanah Abang

Belanja, siapa yang tidak menyukainya?! Ada semacam kepuasan yang tidak mudah digambarkan ketika sedang belanja, entah belanja kategori nafsu ke berapa. Belanja kebutuhan rumah (belum) tangga pun beberapa kali aku bablas di luar budget, menyesal sih tapi rasa puasku mengalahkannya. Belanja buku apalagi, amat menyenangkan. Urusan belakang sempat membacanya atau tidak.

Ini bukan tentang sophaholic, sekali lagi bukan. Aku tahu diri, soal belanja aku cenderung tidak terlalu memanjakan. Ini soal kesenangan belanja busana dan semoga sebentar lagi aku memiliki kesempatan utk menjadi agen pakaian , semoga rizki rumah tanggaku bersama suami nanti, insya Allah. Amin.

Tanah Abang, surganya perempuan-perempuan penggila busana. Slogannya 'Pusat perbelanjaan terbesar di Asia' (entah Asia mana lupa). Entah sekedar iklan atau betulan. Di sana juga jantung perekonomian bagi sebagian warga Jakarta dan sekitarnya.

Betapa aku menikmati tiap momen yang diarahkan pandangan mata, pendengaran telinga dan proses tawar menawar. Eh kecuali bagian kelelahan berjalan yang sering akan mematahkan kaki. Tanah Abang amat sangat luas sekali, kawan. Jika ada yang bertanya blok-blok nya insya Allah aku paham.

Beberapa takdir yg terjadi di sana sempat kusyukuri sebagai media meraih keridhaan Tuhan. Perjumpaanku dgn pak Iwan, tukang parkir, memberi kemudahan tersendiri ketika berkunjung di tanah Abang. Bagaimana tidak? Entah kapan kami mulai akrab tapi serame apapun Tanah Abang aku tidak khawatir soal parkiran. Pak Iwan lah malaikat penjaga Vablu ku yg dikirimkan Tuhan.

Pak Iwan 5 tahun lebih tua dari usianya, barangkali rutinitas pergi pagi pulang petang dan debu kereta perjalanan dr Tangerang-Jakarta lah yg berhasil membuat kerutan di wajah sumeleh nya. Aku biasa menitipkan belanja ratusan hingga jutaan padanya sebelum melanjutkan ke blok lainnya. Kenyamanan yg melahirkan kepercayaan.

Porter. Penyedia jasa tukang panggul sempat membuatku mengadu pd Tuhan, "Masukkan mereka ke surga, ya Tuhan ya?! Tiap tetesan keringatnya, tiap tulang yg bengkok gara-gara berat barang yg dipanggulnya semoga Kau catat utk kemudahan dan keberkahan hidup keluarganya. Ya Tuhan ya?!"

Pedagang. Kebanyakan mereka org Padang dan Cina. Variatif sekali kelakuan mereka, ada yg ramah, jutek tidak butuh pelanggan, ada yg melayani dgn hati, juga kehangatan yg dipaksakan. Ada yg merasa pelayan juga majikan, bermacam karakter ada dalam diri mereka.

Jargon 'pembeli adalah raja' kadang berlaku dan acapkali tidak. Misal di Pusat Metro Tanah Abang, di sini mereka menjual grosiran. Umumnya penjual mengharuskan paling sedikit tiga pieces baju yg dapat dibeli utk satu model, itu sudah menjadi kesepakatan. Tapi di lapangan faktanya ada yg mengijinkan dua, satu. Juga ada yg jutek dan ngotot bahwa mereka jual grosiran. Nah dibutuhkan senyuman utk proses tawar menawar ini.

Penjual dan pembeli harusnya memiliki kesabaran tingkat tinggi dlm negosiasi ini. Penjual ramah.dan jujur, pembeli berani menawar dan sopan. Betul-betul membutuhkan jiwa negosiator tingkat tinggi. Senyum, sapa dan sabar.

Pak Ogah, si penyelamat lalu lintas transportasi. Ada yg tengil hanya mengharap imbalan juga ada yg betul-betul dr hati mengatur kemacetan Tanah Abang dan sekitarnya. "Gopek dulu doooong." Yep, pak Ogah.

Pedagang nasi, jamu, buah, gorengan, minuman, asesoris dll. Kebanyakan perempuan, sang pahlawan kasih sayang dan guru kehidupan. Masya Allah... Ada yg suaminya meninggal, macem-macem.

Preman. Premanisme di Jakarta sangat terorganisasi dan menggurita. Mereka dapat jatah dr pedagang kaki lima yg kepanasan, dan bayaran itu tidak menjamin nasib pedagang kecil-kecilan aman dr gusuran satpol PP. Bayangkan utk tanah seluas meja makanku mereka harus membayar 500rb per bulan pd preman-preman.

Apapun yg terjadi aku sangat menikmati aktifitas belanjaku. Entah itu mengantar teman, keponakanku yg memiliki toko baju di Tuban dan atau utk kujual sendiri. Semoga ketika aku menikah nanti eh sebentar lagi salah satu rizkiku dan suami ada di Tanah Abang ini, membelanjakan teman-temanku di daerah. Mengikuti jejak rasul. Amin...

Minggu, 02 Desember 2012

Hujan

"Tin, gw ngadepin tantangan dua kali lipat dibanding orang lain."
"Maksud kamu apa, cin?"
"Kemarin gw deal-dealan kerjaan. Setelah menejer tahu kalau gw low vision, kerjaan dibatalin."

Percakapanku bersama sahabat, saat matahari siap tenggelam, saat tukang parkir menyapu halaman sebuah bank. Ia rupawan, cabi menggemaskan, cara ia bicara mengesankan laki-laki matang dgn emosi yg stabil, sarjana, aktifis anak jalanan, penyayang.

"Teh, knp musti gw nggak bisa denger dgn jelas sih? Gw pengen lolos presentasi UAS, gw pengen sarjana." Kalimat indah utk modal kenalan sama Tuhan, dr hati adiknya sahabatku.

"Tuhan, adakah laki-laki  baik yg rela menemani malam-malamku? Segera?" Status teman FB-ku (juga jeritan hatiku yg tercabik-cabik sebetulnya). Janda tak beranak, wajah dan suaranya cantik, hatinya? Semoga.

Hah hah hah... tuhan macam apa yg membiarkan sahabat baikku matanya berkaca-kaca sebab low vision yg membuatnya menghadapi tantangan dua kali lipat drpd kebanyakan orang? tuhan macam apa yg tega mengaburkan pendengaran adik sahabatku hingga ia sedih akan kesarjanaannya? tuhan macam apa yg menunda pasangan janda kesepian itu? ah tuhan macam apa...
#memutar lagu 'imagine' nya om John Lennon

Jumat siang, hujan dan tidak menahan laju motorku utk menyusuri jalanan. Harusnya pukul 14.00 aku berada di bus sejuta umat menuju Kp. Rambutan, berganti bus ke Karawang lanjut ke Garut meramaikan pernikahan adik sahabatku. Tapi pukul 14.00 aku masih bersama vablu, telat sejam. Itu alasan aku menembus hujan. Hujan sepanjang jalan, kencang dan berhasil membuatku deg-degan.

Minggu jelang siang. "Abla*, alhamdulillah kemarin kita duduk dan basah kuyup dgn AC dingin aduhai ya eh sekarang kita berdiri hampir dua jam dan kegerahan." Kata sahabatku yg memiliki jiwa pasrah dan hati bersih. Menderita masih sempat ber-hamdalah ria. Hah apa ituuu????!!

Tiba di Jakarta, hujan menyambut kedatangan kami lagi, dan lagi. Aku tak peduli dgn air hitam  menggenang, air yg bercampur dgn pipis laki-laki sembarangan. Mungkin. i don't care! Yg kufokuskan bagaimana menikmati sofa coklat di yayasan sahabatku. Kutembus air kimia itu, berpacu dgn menit dan jam.

"Setibanya kita di yayasan aku janji bakalan menjama' akhir Zuhur dan Ashar biar tidur siangku memanjang." Ucapku dgn alis terpaut dan mencari alasan utk menyambut keringanan musafir jalanan dr Tuhan. Yup sepadan dgn perjuanganku yg berdiri hampir dua jam di bus Karawang-Jakarta dan paginya berthawaf menemani orang tua sahabatku jalan-jalan di pasar pagi, mungkin dua KM. Iya aku yg amat sangat jarang sekali jalan kaki tiba-tiba memasang tampang baik-baik saja di saat kelelahan hampir pingsan. Demi menjaga kebahagiaan orang tua sahabatku. Baik kan aku? Ngomong-ngomong aku tak butuh jawaban.

Tiba di yayasan. Masih hujan. Aku makan sisa gorengan daaan, "Abla*, kunci vablu mana? Abla nggak mau hujan-hujan biarlah vablu kami mandikan." Kulempar begitu saja kunci motor yg kata teman motor seken saking dekilnya, padahal itu motor Pebruari 2012 bersamaku dan baru dr dealer. Aku melamun eh mematung dan memikirkan betapa aku dan mereka bertiga sama-sama tepar tapi rupanya mereka mau menjinakkan hatiku utk menangis bersama hujan sebab keterharuan persaudaraan yg mereka ciptakan. Kalau pas begini aku lupa mendemo Tuhan dan semampuku melaksanakan apa itu kebaikan.

Lalu kusaksikan mereka bertiga meraba tubuh vablu dgn girangnya. Pemandangan itu yg mencabut janji utk mengakhirkan salatku. Seketika aku salat Zuhur sambil mendoakan kebaikan utk mereka. Aku tidak memanfaatkan keringanan Tuhan, malu mengingat betapa aku sering main-main dgn waktu.

Sofa coklat melambai utk kutiduri. Penghuni yayasan paling muda, Lela, sibuk membawa ember dan eh? Hah? Banjir? Di lantai dua? Apalagi iniiih???!! Ini kali kedua air masuk ke kamar tanpa basa-basi, dulu juga tapi kedapatan sebelum air menggenang dgn tanpa rasa bersalah.

Tanpa diminta otomatis aku ikut mengepel, rupanya banjir di lantai dua ini alasan yg membuatku terharu saat mereka memandikan vablu tadi lalu menjadi tindakan kerja bakti yg tak dipaksakan. Dgn bergaya seniman aku mendeklamasikan, "tuhan macam apa yg menghadirkan ujian beruntun dr Jumat hingga Minggu? Siang, siang?" Mereka tertawa melihatku sambil beristighfar.

Iya... Ini bagian akhir kisahku. Aku sangat pandai sekali menulis atau mengungkapkan kalimat umpatan utk mencandai keadilan Tuhan tapi ideku habis utk menjelaskan suasana kebahagiaan, cinta, kasih sayang dan emosi-emosi surgawi. Bahagia itu tindakan toh? Bukan lagi sebuah perencanaan atau bunyi-bunyian kalimat gombal. Jika cinta yg mengepung rasaku biasanya aku melanjutkan dgn tindakan yg dianggap baik oleh umum dan berusaha utk tidak menyusahkan mereka, org kebanyakan itu.

Beberapa hari lalu aku membaca takdir menurut rektor UIN Jakarta, "Banyak dijumpai ayat al-Quran yg bicara ttg takdir berhubungan erat dgn hukum alam yg mengandung kausalitas sebab-akibat. Ada yg kita ketahui dan tidak sanggup kita ketahui penyebabnya."

Singkat kata, ada peristiwa yg jarak sebab dan akibatnya pendek. Contoh tangan tertusuk duri, maka jarak sebab-akibatnya langsung berupa sakit. Kausalitas dr aktifitas dunia hanya akan dijumpai di akhirat nanti, aku termasuk dr mereka yg meremehkan karena akibatnya tidak langsung.

Pak rektor mengingatkan secara tdk langsung dr konsep takdirnya itu, utk berhati-hati dlm memilih keputusan. Beorientasi pd kausalitas akhirat yg cenderung diremehkan. Iya manusia memiliki kebebasan penuh utk melukis takdirnya, apakah akan ia putuskan utk mengeluh saat pailit? Kikir ketika kaya? atau... Mengisi takdir mereka dgn sayap sabar dan syukur? Menghamba pada-Nya dgn rasa cinta dan tak mengharap apa-apa? atau...

Mari kita serahkan pd akal dan hati utk memutuskan, apakah mereka berpihak pd jasad? atau setia pd ruh (sesuatu yg paling Ilahi dr manusia)?... Semoga kita tergolong ke dlm org-org yg diberi nikmat, bukan org yg dimurkai atau disesatkan, amin...

*Abla adalah panggilan utk sodari (perempuan ya) :)

#Menanti Subuh sementara cahaya mata mulai meredup...
"Akalku, hatiku, nunggu salat Subuh tertegakkan ya baru boleh tidur! Ini perintah dr Ning Farrah."

Minggu, 25 November 2012

Solitaire

Aku takut melihat diriku kecil, tak berarti
Sementara di depanku terhampar semesta yg mahabesar
Dan tak terjangkau garis tepinya

Takut melatari pertemuanku dgn Musa
Siapa duga ia dapat menjembatani gelisahku yg mendera
Mataku berbinar melintaskan kemesraanku bersama juru bicara-Nya

Ah malang nian
Dia pun menggigil usai melakukan dosa
Terucap melalui lisannya, "Tuhanku, aku fakir terhadap kebaikan yg Engkau turunkan kepadaku."

Duhai sang juru bicara-Nya
Tak dapatkah kau melihatku? Sejenak saja
Aku pergi dan tak menoleh lagi
Meninggalkan sang pemberani itu
Di bawah pohon meratapnya

Terperdaya aku dibuat
Menyaksikan dunia bagaikan taman raksasa yg begitu memikat
Aku murka, rupanya dunia tak seindah permukaannya
Kulaknati semua yg ada di hadapanku
Sebagai sumber deritaku

Aku pergi dgn membawa angkara
Mencari dukungan di belahan dunia
Hanya aku sajakah yg dibuat terpukau
Lalu dikecewakan oleh aneka warnanya?

Dadaku sesak hampir meledak
Ingin meraih kemuliaan Yunus
Kutanya keberadaannya, "Di mana?"
Lautan. Serempak penduduk itu menunjuk arahnya

Sesak semakin menjadi-jadi
Saat kudengar lantunan di ruang gelap,
"Tiada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh aku adalah orang yg amat pandai menzalimi diri sendiri."

Aku berjalan dengan perasaan hampa
Tetiba di daerah asing bekas reruntuhan
Ingin kukantongi petuah dr hamba yg Selalu mengucap syukur di mulutnya
Ingin kucuri resep ketenangannya

Hah? Apa ini? Jangan kan bicara
Menggerakkan mulutnya saja ia tak bisa
Belatung mengerubuti lisannya
Seperti semut menempel di lautan gula
Lirih kutangkap suaranya,
"Tuhan, aku ditimpa bahaya. Dan Engkaulah Sebaik-baik Penyayang di antara penyayang."

Sebelum muntah oleh kebusukan baunya
Aku lari bergegas meninggalkan lelaki penuh luka
Pencarian terus kulakukan
Aku mendengar ada lelaki paling pengiba
Di ujung sana
Pernah ia menjamu malaikat yg diduga manusia, olehnya
Dengan daging

Aku tak mampu melihat karisma wajahnya
Ah paling penting aku membawa mewarisi nasehatnya
Lelaki pengiba ini memuja dgn intim
Sebuah doa terlantun dr jiwa hanifnya,
"Tuhan, Anugerahi aku sebuah hikmah
Dan himpunlah aku ke dalam golongan orang-orang salih."

Tanganku menjadi dingin, kaki beku
Kepala sepadan dgn lima juta ton besi
Menggelayutiku
Mataku gelap seperti banyak kunang
Di mulutku hanya terucap,

"Rabbii innii limaa anzalTa ilaiya min khairin Faqiir."
"Laa ilaaha illa Anta, SubhaanaKa innii kuntu min al-Zaalimiin."
"Rabbii innii massaniya al-Dhurru wa Anta Arham al-Raahimiin."
Rabbii hab lii hukman wa alhiqnii bi al-Shaalihiin."

#berkurang usianya ya, semoga berkah dan produktif saja sisanya, amin :)

Nasib

"Kau pangeranku, jatuh ke kali, berkali-kali." Hah hah hah bocah-bocah perempuan tetangga sebelahku memadu suara mereka saat kutulis curhatan ini, mereka berempat dan semangat (maklum belum pernah patah hati sepertinya). Entahlah apa hubungannya lagu tsb. dgn judul nasib atau dgn suasana hatiku saat ini, barangkali nothing tapi aku suka aja menjadikannya pembuka dari postingan kali ini.

Rak sepatu yg berantakan, kotoran ayam dan Tikus yg belum tersiram, jemuran baju dua hari lalu yg belum kuangkat, sarung ungu dan dua celana dalam yg dari kapan teronggok begitu saja di kursi seharga sejuta, empat motor terparkir awut-awutan dan kerudung pasmina buah tangan dari Mesir saat aku menjadi penceramah majlis ta'lim komplek perumahan tempat tinggalku (aku jadikan tatakan my ass). Demikian atmosfir terasku dan aku tetap melanjutkan tulisan ini sebelum ide melambai pergi.

Ittaqi sedang memasak utk makan malam, Syifa main lap top (mereka keponakanku). Arif (pacarnya Ittaqi dan kelihatannya mereka saling mencintai sehidup semoga semati jangan) dan Anto (rekan kerja Arif dan Syifa) menonton Tivi. Ya aku tetap autis dgn kalimatku sendiri sebelum ceritaku dibawa angin dan tak kembali. Bebal kah aku tak membantu Ittaqi menggoreng omelet? Ah mungkin iya mungkin tidak.

Beberapa menit lalu aku membaca dua pesan singkat beriringan dari sahabatku. Menanyakan apa aku di rumah dan ia minta tolong agar gerbang pintu kubuka, hujan katanya. Saat sms kubaca hujan tak lagi rinai. Iya aku tidur dan hp aku Fligt mode kan saat ia datang kemari. Oh harusnya aku istighfar ratusan kali utk kebaikan hati sahabatku dan pengantarnya namun kuabaikan. Pengantarnya siapa ya? Siapa lagi kalau bukan perempuan berotak empat yg memberi arloji Alexander Christy pd hari lahirku tahun ini dan aku menyayanginya sesekali tidak juga memahaminya. Tapi aku tetap menulis mengejar makna meski lintasan demi lintasan pikiran itu bertamu di alam abstrakku.

Sabtu. Harusnya aku tiba di kampus pukul 09.00, namun pukul 10.00 masih tergeletak macam Zombi di ranjang. Ada panggilan dari sahabat sekaligus rekan bisnis baju, ia mengabarkan empat gamis terjual. Buka FB ada postingan amalan 10 Muharam, postingan itu yg mempercepat aksiku melakukan kebaikan di hari Sabtu. Mandi lalu pergi ke kampus. Ada acara motivasi utk siswa SMU 70 yg tadinya hobi tawuran. Aku dijadualkan menjadi konselor satu di antara mereka usai acara motivasi oleh guru pikir kami. Aku juga bertugas mengumpulkan dan membaca ujian tulisan Kahfi ustad. Tapi aku belum pernah berjasa yg tak terbalaskan utk almamater Kahfi, iya aku yg selalu mendapat pencerahan dari kampus pikir tsb. Ah.

Jum'at. Bolos kerja, memanja pd batuk berdahakku. Siangnya aku sempat pergi ke dua kampus mengumpulkan data, institusi mana yg cocok utk menjinakkan nafsu sekolah lanjutanku. Perjalanan kulanjutkan ke Istora Senayan menilik pameran buku bareng sahabat yg kerap menjadi musuhku. Kami betul-betul akrab saat itu, lupa beradu mulut. Rp.350 ribuan cukup utk membawa pulang 6 buku fiksi dan 11 buku ilmiah (salah satunya, 'Romantic Intellegence' yup agar aku lebih cerdas bercinta). 1 buku cerita dan kaos kubawa pulang berkat keberanianku eh kenekatanku (seperti biasa mengajukan pertanyaan tak bermutuku saat seminar berlangsung).

Indonesia Fair 2012 yg mengusung tema kreatif menakdirkanku utk menatap mata mas Ken Dean begitu juga ia membalas tatapan dan mensenyumiku bahkan memberikan kaos hitam secara langsung padaku. Mas Ken Dean, petinggi kaskus mensosialisasikan buku sepak terjang bisnis on line nya terbitan Gramedia. Ramah, hangat, energi positif yg berlelehan seperti es krim utk menaklukkan dunia. Itu spirit yg kutangkap darinya.

Pak Zaenal, masih rangkaian Indonesia Fair. Laki-laki tua yg kucel, memiliki tatapan mata tegas dan ramah atau entah istilah apa yg tepat utk menamakan pertanyaan pembukanya padaku. Ia berbincang pada seseorang di sampingnya tentang bisnis dan, "Sahamku Rp. 200.000.000, pak." Jawaban partner bicara pak Zainal saat ia tanya-tanya entah bisnis apa. Sang partner tsb sambil mengangkat dagu saat pembicaraan berlangsung, entah apa maknanya. Ah pak Zainal, laki-laki kucel dgn sejuta keingintahuannya.

Usai seminar pak Zainal menyapa mas Ken Dean dan mengajaknya bicara, mas Ken petinggi kaskus itu membungkuk (tinggi badan mereka mencolok) dan mas Ken merendahkan gesture nya (hatinya juga mungkin). Tapi tidak dgn mata partner 200 juta, matanya atau mataku bicara sesuatu ttg laki-laki kucel, pak Zainal. Kami berpamitan dan maaf makasih terucap dari bibirku utk mewakili hati dan pikirku saat ribut mengawasi gerak-geriknya tadi.

Demikian rentetan takdirku selama tiga hari. Siapa yg tahu Jum'at aku mengalami kesenangan, siapa sangka Sabtu aku diingatkan ulang utk mempertanggung jawabkan  hasil pikiranku secara jantan dan siapa duga Minggu aku begitu mengecewakan orang yg kusayangi dan kuhormati. Siapa kira? Sungguh tak terlintas peristiwa sedetail itu di pikiranku. Sungguh.

Pebisnis, penulis, pembicara. Tiga potensi yg dialamatkan seorang sahabat utkku, aku dapat menjalankan tiga peran itu katanya. Benarkah? Siapa yg tahu, sebaiknya kuanggap doa saja. Sang suplemen dan santun, karakter yg dihadiahkan pdku. Itukah citra diriku? Wallahu A'lam, semoga doa itu menambah kerendah hatianku.

Aku tidak akan pernah dapat membaca pikiran Tuhan terkait nasibku kecuali dgn izin-Nya. Aku, di dalam aku terkumpul keburukan dan kefanaaan. Jika bukan berkat kemurahan Tuhan mana mungkin sampai detik ini masih ada yg mengasihiku. Aku, makhluk cacat karakter yg jauh dari kesempurnaan ini kalau bukan karena Tuhan telah Menitahkan Diri-Nya sebagai Mahacinta mana mungkin masih disayangi orang-orang sekitar yg memaklumi aib dan kelemahanku. Aku ya dalam 'aku' ku terdapat modal utama utk mengenali siapa Tuhanku. Semoga kita semua diberi kekuatan utk mengenali diri dari pintu mana pun; dari keinginan nafsu, dari pemikiran hati, dr sehat dan sakitnya akal, dari bergejolak dan tentramnya jiwa dan dr kemurnian ruh. Dan buruk baiknya takdir berasal dari terjaga atau rusaknya utk mengkomunikasikan komponen-komponen lunak tsb dgn Tuhan.

"Duhai sang Mahahidup, sang Mahategak... Dgn kasih sayang-Mu, kami betul-betul meminta perlindungan, tolong jangan biarkan nafsu kami menjadi pengendali dari keinginan kami, jgn serahkan kami pd nafsu kami sekejap mata pun dan perbaikilah keadaan kami." Doa Fatimah az-Zahra, jg ada dlm hadis riwayat imam Tirmidzi.

#curhatan ini diiringi lagu mas Daniel Bedingfield, 'Honest Question'